Asri Hadi Bertemu Nyoman Nuarta Perancang Ibukota Nusantara, Dapat Banyak Info, Ini..

Bandung, MONITORNUSANTARA.COM,- Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) mendapat kesempatan mengunjungi I Nyoman Nuarta sang perancang desain Ibukota Nusantara (IKN). Asri Hadi disambut seniman kelas dunia ini di studio kerjanya di Taman Patung yang diberi nama NuArt Sculpture Park.

Di kediaman seniman patung kelas dunia ini Asri Hadi banyak mendapatkan informasi tentang perkembangan desain IKN yang akan dibangun di Kalimantan Timur.

Asri Hadi sangat takjub dan kagum saat melihat sejumlah desain unik dan menarik yang berada di tempat Nyoman Nuarta yakni di Sculpture Park di Bandung Jalan Setra Duta Raya No.L6, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40514.

“Luar biasa konsep dan desain Ibukota Nusantara yang sedang dirancang Nyoman Nuarta, benar-benar dikerjakan secara terukur, sistematis dan mempertimbangkan segala aspek, yakni arsitek bangunan, kekuatan, keamanan, dan banyak lagi,” papar Asri Hadi.

Dalam tim itu, menurut Asri Hadi, I Nyoman Nuarta, melibatkan para arsitek kenamaan dalam menangani desain bangunan Istana IKN.

Didepan Asri Hadi, Nyoman Nuarta, perancang kawasan Istana di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara memamerkan gambaran desain, konsep dan bentuk istana kepresiden yang akan dibangun di Ibu Kota Negara Nusantara.

Istana Garuda, konsep istana kepresidenan karya Nyoman Nuarta yang telah disetujui Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusung konsep dan bentuk yang unik. Bangunan tersebut diklaim bakal menjadi satu-satunya bangunan istana kepresiden yang menjadi sebuah karya seni.

“Desain final Istana IKN,” sebut Nyoman.

Nyoman memperlihatkan bahwa kompleks istana kepresidenan, nantinya akan memiliki lapangan upacara, bangunan istana, bangunan kantor presiden, bangunan kantor sekretariat presiden, bangunan kantor staf khusus,bangunan paviliun presiden.

Selain itu, terdapat botanical garden, bangunan wisma negara, bangunan mess paspampres, bangunan masjid, bangunan museum, bangunan-bangunan pendukung, bangunan check point.

Garuda Akan Jadi Istana Presiden Pertama di Dunia

Dikutip dari laman Kemenparekraf, desain dengan nama Istana Garuda merupakan satu dari bagian Istana Kepresidenan Nusantara yang akan dibangun di lahan seluas 55,7 hektare dengan luas tapak 334.200 meter persegi.

Menurut Nyoman, burung Garuda menjadi desain karena kaitannya yang sangat erat dengan Indonesia dengan berbagai perbedaan, segala silang pandang, segala keragaman adat istiadat dan perilaku, dan perbedaan kepercayaan dan agama. Garuda merupakan simbol persatuan. Apalagi garuda juga menjadi bagian dari lambang negara, Bhineka Tunggal Ika.

Dia menjelaskan Istana Garuda dirancang sebagai ‘sesosok rumah’ yang berasosiasi pada burung Garuda. Tidak hanya berhenti pada landmark sebuah kawasan, tetapi lebih sebagai perwujudan pencapaian sinergi antara seni, sains, dan teknologi.

Nyoman mengatakan perpaduan ketiganya selalu mewarnai keberadaan bangunan-bangunan ikonik di seluruh dunia. Desain Istana Garuda akan benar-benar ditransformasikan dan diwujudkan dalam sebentuk pola arsitektur dengan mempertimbangkan aspek-aspek estetik, nilai guna, serta manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Tanah Air.

“Presiden akan berkantor di Istana Garuda, seolah berada di garis depan untuk memimpin bangsa ini menggapai cita-cita, keadilan sosial, kemakmuran bersama. Secara simbolik, peran ini mengandung bahasa keindahan, keramahtamahan, keteduhan kemandirian, serta kewibawaan sebagai pemimpin bangsa yang besar,” ujar Nuarta seperti dikutip dalam laman resmi Kemenparekraf, Senin (13/6/2022).

Secara konsep dan bentuk, Nyoman mengklaim bahwa Istana Garuda akan menjadi istana presiden pertama di dunia yang dibangun sebagai sebuah karya seni. Secara teknologis, Istana Garuda akan menggunakan teknologi pembuatan patung yang telah dipatenkan.

Dia menjelaskan sosok burung yang berasosiasi pada garuda dalam Istana Garuda akan dibangun dari kerangka baja, serta cangkang dari tembaga, kuningan, galyalum dan kaca. Tembaga dan kuningan selanjutnya akan mengalami proses oksidasi, sehingga perlahan-lahan akan berwarna hijau tosca yang matang.

Secara khusus, Nyoman berharap pembangunan Istana Kepresidenan bisa memberikan daya tarik tersendiri, terlebih pada dunia pariwisata. Dalam waktu bersamaan, daerah di sekitaran Kalimantan Timur akan turut bergerak, memberikan keleluasaan bagi masuknya industri pariwisata. Dengan demikian, Istana Garuda akan berdiri di garda paling depan untuk mengubah citra sebuah pulau ‘kosong’ yang selama ini tidak disentuh oleh pembangunan.

“Semoga Istana Garuda benar-benar bisa menjadi rumah rakyat, tempat seluruh rakyat Indonesia mereguk nila-nilai keadaban dan perdamaian, serta persaudaraan dan persatuan, agar bangsa ini terus bertumbuh menjadi bangsa yang sehat, kuat, dan besar sepanjang masa,” ungkapnya.

Nyoman Nuaarta kelahiran Tabanan 70 tahun silam ini menjelaskan dirinya melibatkan tim gabungan dari berbagai ahli sesuai dengan bidangnya masing untuk mengerjakan bangunan Istana Negara IKN.

“Ada banyak (arsitek),” jawab Nyoman.

“Ada 70 ahli yang kami libatkan, ada profesor, doktor, sampai masalah grand design, masalah lanskap, itu ada ahli-ahlinya yang punya reputasi tinggi,” ungkapnya.

Ahli-ahli tersebut berperan untuk memastikan keamanan bangunan Istana IKN. Salah satunya ahli konstruksi untuk mengecek kandungan tanah di lokasi tersebut.

“Di Ibu Kota baru ini, kami tahu di sana bebas gempa, gempa hampir tidak ada. Jadi, kami konsentrasinya bukan di gempa tapi di tanahnya, karena banyak kandungan clay soil,” kata I Nyoman Nuarta.

“Clay soil itu kalau terkena air jadi lumpur, kalau kering keras sekali, dipancang pun tidak bisa. Nah dari situ kami undang ahli struktur, ahli kimia. Jadi kami kerja tidak sendirian,” sambungnya.

I Nyoman Nuarta dikenal luas sebagai pematung Indonesia dan salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru (1976). Dia paling dikenal lewat mahakaryanya seperti Patung Fatmawati Soekarno, Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali).

Kemudian Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta). Nyoman Nuarta mendapatkan gelar sarjana seni rupa-nya dari Institut Teknologi Bandung dan hingga kini menetap di Bandung.

Nyoman Nuarta adalah putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Wirjamidjana dan Samudra. Nyoman Nuarta tumbuh dalam didikan pamannya, Ketut Dharma Susila, seorang guru seni rupa.

Setelah lulus SMA, Nuarta masuk di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1972. Awalnya Nuarta memilih jurusan seni lukis, tetapi setelah menempuh dua tahun dia berpindah ke jurusan seni patung.

Saat masih menjadi mahasiswa pada tahun 1979, Nyoman Nuarta memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia, lomba ini adalah awal dari ketenaran Nyoman Nuarta.

Bersama rekan-rekan senimannya, seperti pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, dan kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman Nuarta tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia sejak tahun 1977.

Sejak tenar, Nyoman Nuarta yang merupakan alumni ITB tahun 1979 telah menghasilkan lebih dari seratus karya seni patung. Semua karyanya menggambarkan seni patung modern sampai gaya naturalistik, dan material yang digunakan dalam padatan patungnya adalah dari tembaga dan kuningan.

Bakat pria kelahiran 14 November 1951 ini adalah di bidang seni diturunkan pada putrinya. Putri sulungnya, Tania belajar di jurusan seni rupa di salah satu Perguruan Tinggi di Melbourne, Australia, sedangkan adiknya, Tasya membantu Nuarta di studionya.

Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun sebuah Taman Patung yang diberi nama NuArt Sculpture Park. Nuarta membangun taman ini di kelurahan Sarijadi, Bandung.

Puluhan beraneka bentuk patung dalam beraneka ukuran tersebar di areal seluas tiga hektare tersebut. Di taman tersebut dibangun gedung 4 lantai yang digunakan untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya yang artistik.

Saat ini, Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio Nyoman Nuarta, Pendiri Yayasan Mandala Garuda Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda Adhimatra, Pengembang Proyek Mandala Garuda Wisnu Kencana di Bali, Komisioner PT Nyoman Nuarta Enterprise, serta pemilik NuArt Sculpture Park di Bandung.

Nyoman Nuarta juga tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International Sculpture Center Washington (Washington, Amerika Serikat), Royal British Sculpture Society (London, Inggris), dan Steering Committee for Bali Recovery Program.

Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta), serta Tugu Zapin (Pekanbaru, Riau) merupakan beberapa dari mahakarya Nuarta.

Monumen Jalesveva Jayamahe di Dermaga Ujung Madura, Surabaya.

Pada tahun 1993, Nuarta membuat sebuah monumen raksasa “Jalesveva Jayamahe” yang sampai sekarang masih berdiri di Dermaga Ujung Madura, Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur (Koarmatim) Kota Surabaya.

Monumen tersebut menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berbusana Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan pedang kehormatan yang sedang menerawang ke arah laut. Patung tersebut berdiri di atas bangunan dan tingginya mencapai 60,6 meter. Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Mahakarya Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jadi Daya Tarik Wisman Sedunia

Karya Nuarta yang paling besar dan paling ambisius adalah Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dimulai sejak 8 Juni 1997 namun terhenti beberapa tahun akibat berbagai hambatan. Rencana patung GWK sendiri akan memiliki tinggi 75 meter dengan rentang sayap garuda sepanjang 64 meter, sedangkan tinggi pedestal 60 meter. Oleh karena itu, tinggi patung dan pedestal secara keseluruhan akan menjulang setinggi 126 meter.

Lantas, seperti apa sosok Nyoman Nuarta?

Nyoman terlahir dengan nama I Nyoman Nuarta. Dia merupakan seniman patung atau pematung asal Tabanan, Bali, yang lahir pada 14 November 1951. Desain istana negara di Ibu Kota Baru, Kalimantan Timur.

Pria berusia 69 tahun itu telah menekuni dunia seni patung selama 45 tahun lamanya. Sejak masa kanak-kanak, Nyoman telah banyak terlibat dalam kegiatan kesenirupaan di desanya.

Saat itu, Nyoman kecil mendapatkan dukungan penuh dari guru menggambarnya, yaitu Sumbangsih Ketut Darma Susila. Ketut dianggap sebagai orang pertama yang memberikan dia semangat dalam dunia kesenirupaan.

Bagi Nyoman, rintangan ataupun hambatan merupakan rangsangan timbulnya semangat untuk terus berkarya.

Menurut dia, berkarya adalah kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Hingga akhirnya, Nyoman meyakini betul bahwa mematung merupakan jalan hidupnya. Pengalaman profesional Nyoman di bidang seni rupa dimulai sejak dia bestatus sebagai mahasiswa.

Pada tahun 1972, Nyoman memasuki dunia perkuliahan dan memilih jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah dua tahun, dia memilih untuk melanjutkan studinya ke Jurusan Seni Patung.

Kala itu, Nyoman bersama pematung G Sidharta dan Martono bergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) Indonesia pada tahun 1977. Mereka bertiga juga mengikuti pameran kelompok di Bandung dan Jakarta. (tim)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *