Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Belakangan ini nama Pandji Pragiwaksono mencuri perhatian publik. Pasalnya ia tampil di di special show ‘Mens Rea’ yang ditayangkan di media Netflix. Di Mens Rea, Pandji tampil stand up Comedy, mengkritisi dan meroasting “orang-orang pemerintahan” mulai dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Polri hingga Presiden Prabowo Subianto.

Lucunya, Pandji Pragiwaksono justru tidak menyentuh nama-nama tokoh seperti Anies Baswedan, Mahfud MD atau Ganjar Pranowo yang kini sering tampil berseberangan dengan pemerintah.

Pandji pun akhirnya buka suara kenapa dirinya tak membahas sejumlah figur politik di special show ‘Mens Rea’. Dia mengakui memang banyak sosok yang tak dia bahas.

“Jadi kenapa Pandji tidak bahas Anies Baswedan? Oke, selain tidak ngebahas Anies, gua nggak ngebahas Ahok, Ganjar, Mahfud, Dahlan, Birawan, dan masih banyak lagi,” kata Pandji dikutip dari video yang dia unggah di media sosial, Sabtu (10/1/2026).

Alasannya, kata dia, karena sosok tersebut bukan pejabat publik saat ini. Walaupun sebelumnya memang menjabat.

“Kenapa? Karena mereka tidak menjabat apa-apa,” terangnya.

Di sisi lain, dia membahas sejumlah sosok, karena figur itu pejaba publik. Seperti Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya.

“Kenapa gua ngebahas Pak Prabowo, Gibran, Pak Bahlil, Fadli Zon, Kapolrestabes Semarang atau sekarang disebutnya Wakatbit, Kremas, Dianmas, STNK, Lemdiklat Polri, kenapa semua itu dibahas? Karena mereka sedang menjebat. Mereka adalah pejabat publik, mereka bekerja dengan duit pajak,” jelasnya.

“Duit pajak yang dikumpulin dari rakyat,” tambahnya.

Itulah kenapa, kata dia, jok pertama dia adalah untuk mengingatkan orang, bahwa pejabat itu mesti ditagih tanggung jawabnya. Karena tiap orang punya hak.

“Kenapa? Karena kita bayar pajak, dari PPH 21, tapi kalaupun yang bekerja atau mungkin sektor non formal kerjanya, kita tetap kena pajak konsumsi, bayar bensin, pulsa, segala macam kena pajak. Kecuali pajak rumah makan, itu masuknya ke Pemda kayaknya,” paparnya.

“Tapi intinya kita tuh bayar pajak, semua yang tadi kita sebut itu tuh selama masih ada jabatannya kita tuh berhak ngeritik,” sambungnya.

Dia mengibaratkan special shownya seperti kasus Haris-Fatia melawan Luhut Binsar Pandjaitan. Di dalam pertunjukannya, merupakan berita yang sudah ada namun cuman diantarkan secara komedi.

“Jadi mereka mereka itu dibahas karena mereka mereka menjabat. Yang lain kenapa mereka dibahas, nggak menjabat. Mereka nggak ambil duit pada kita,” ucapnya.

“Mungkin dulu pernah, tapi saat itu mereka tidak menjabat apa-apa,” tambahnya.

Prabowo, kata dia sedang jadi presiden. Gibran berhasil jadi Wapres, jadi apapun yang mereka lakukan, penting untuk membahasnya.

“Kalau presiden kita bilang mau maafin koruptor, boleh dong kita bahas. Kalau presiden kita punya masa lalu, pernah mengamankan aktivis, mengamankan kata beliau. Masa enggak bisa kita bahas,” terangnya.

“Kalau Pak Gibran bikin sebuah kebijakan, yang menurut keyakinan saya lebih banyak aspek PR nya, ketimbang aspek manfaatnya, apalagi mengingat posisi dia sebagai wapres, masa nggak boleh. Kan menurut keyakinan saya. Boleh dong,” sambungnya.

Pada intinya, dia mengatakan itu itulah alasan kenapa Anies Baswedan tidak dibahas. Begitu pula figur lainnya.

“Kenapa Ahok nggak dibahas, kenapa Pak Gita Wirjawan nggak dibahas, sebenarnya kita mau ngebahas orang nggak menjabat. Tapi dibahas seperti apa? Misalnya Pak Joko Widodo, Irjen Tedy Minahasa, Dharma Ponorogo,” pungkasnya.***

Ikuti MONITORNusantara.com di Google News

Sempatkan juga membaca artikel menarik lainnya, di portal berita EDITOR.id dan MediaSosialita.com