Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya sangat terbuka terhadap kritik dan koreksi yang bersifat konstruktif. Namun Prabowo menolak keras praktik fitnah dan kebohongan yang dinilainya dapat merusak persatuan bangsa.
Prabowo mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah, karena perbuatan tersebut dilarang oleh semua ajaran agama.
Menurut Prabowo, persatuan tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi, selama di dalamnya tetap ada ruang untuk kritik dan koreksi yang membangun.
Kepala Negara, dalam sambutannya pada Perayaan Puncak Natal 2025 di Jakarta, Senin malam, mengatakan demokrasi justru sehat ketika kritik disampaikan secara jujur, bukan melalui fitnah yang dapat memecah belah bangsa.
“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Lho, demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional di Tennis Indoor Senayan, Senin (5/1/2026) malam.
“Semua agama tidak mengizinkan fitnah, saya yakin di agama Kristen begitu juga,” tegasnya.
Prabowo lantas mengutip ajaran dalam agama Islam untuk menggambarkan betapa berbahayanya fitnah.
“Kalau di agama Islam ada itu ajarannya, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspada sekarang,” kata Prabowo.
Selain fitnah, Presiden juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya kebohongan yang disebarkan untuk memecah belah.
“Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, perpecahan, dan kebencian. Ini bisa merusak kita semua,” tegasnya.
Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut merespons dinamika yang berkembang di ruang publik, khususnya di media sosial.
Menurutnya, media sosial sejatinya memiliki dampak positif, tetapi kerap pula dimanfaatkan untuk menyebarkan opini yang tidak disertai fakta dan kebenaran.
Ia menilai, informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan justru berpotensi memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
Prabowo mengingatkan, kebohongan dan fitnah yang dibiarkan berkembang dapat menimbulkan perpecahan, kecurigaan, serta kebencian antarsesama, yang pada akhirnya merusak persatuan bangsa.
“Banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast,” kelakar Prabowo yang disambut tawa hadirin.
Meski demikian, Prabowo menegaskan dirinya memilih untuk tidak memperbesar persoalan tersebut. Ia mengaku lebih mengutamakan sikap memaafkan demi menjaga persatuan nasional.
Kepala negara juga menyinggung ajaran dalam agama Nasrani yang menekankan pentingnya saling mengampuni sebagai landasan kehidupan bersama.
“Di ajaran Nasrani harus memaafkan. Forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat kebangsaan Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman.
“Jadi saya sebenarnya selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan, saya ingin persatuan daripada perpecahan,” pungkasnya. ***


