Jember, MONITORNUSANTARA.COM,- Kontestasi perebutan kursi nomor satu di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mulai mengerucut. Pasca agenda adu gagasan berupa pemaparan visi dan misi kandidat pada Senin (19/10), eskalasi bergeser ke balik pintu tertutup.
Sebanyak 38 anggota Senat Kampus menggelar rapat pertimbangan untuk menyusun penilaian mutlak, meramu rekomendasi nama-nama yang akan segera disetorkan ke meja Menteri Agama.
Sebelumnya, panggung bursa rektor ini diramaikan oleh delapan cendekiawan kampus. Mereka adalah Prof. Dr. Khamdan Rifa’i, SE., M.Si., Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag., Dr. Moch. Chotib, S.Ag., MM., Prof. Dr. Drs. H. Ubaidillah, M.Ag., Prof. Dr. H. Mashudi, M.Pd., Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., Prof. Dr. Moh Dahlan, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Abdul Mu’is, S.Ag., M.Si.
Seluruh kandidat membeberkan rancangan masa depan kampus di hadapan senat dan elemen mahasiswa. Menariknya, pelibatan mahasiswa dalam mimbar visi-misi ini memunculkan oase demokrasi tersendiri di lingkungan birokrasi kampus.
Meski kapasitas mahasiswa sebatas partisipan pendengar, Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KHAS, Bahrul Umum, menyampaikan apresiasi atas ruang terbuka yang diberikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Sahiron.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Plt. Rektor, Prof. Sahiron. Terima kasih telah menegakkan prinsip demokrasi di kampus kami,” tegas Bahrul.
Namun, gerakan mahasiswa rupanya tidak berhenti sebagai penonton pasif. Bahrul mengungkapkan bahwa seluruh delegasi mahasiswa yang hadir tidak langsung menelan mentah-mentah janji para kandidat, melainkan membawanya ke meja konsolidasi.
“Kita kumpul, dan mengkaji visi misi para calon,” ujarnya.
Di forum kajian tersebut, mahasiswa “menguliti” janji para kandidat dengan menyusun parameter penilaian terukur. Mereka melakukan pemeringkatan kelayakan visi-misi yang diuji langsung dengan realitas objektif dan problem mendasar yang selama ini mengakar sebagai keresahan di akar rumput kampus.
Bahkan, melansir dari laporan Frensia.id, mahasiswa berencana melakukan manuver dengan mengirimkan hasil penilaian mereka secara independen.
“Hasil kajian dan bahkan nama calon dengan visi misi yang paling layak dan progresif dari perspektif mahasiswa, akan kami kirimkan kepada Menteri,” imbuhnya.
Di sisi lain, meski dokumen resmi hasil pertimbangan 38 anggota Senat Kampus dikunci rapat ada informasi bahwa telah ada 5 orang guru besar yang direkomendasikan.
Berdasarkan keterangan dari sumber internal yang enggan disebutkan namanya, jajaran senat telah mengantongi lima nama besar dari delapan kandidat awal untuk direkomendasikan langsung kepada Menteri Agama. Kelima figur tersebut didominasi oleh wajah-wajah senior.
“Ada Prof Ubeid (Prof. Dr. Drs. H. Ubaidillah, M.Ag.), Prof Miftah (Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag.), Prof Chotib (Dr. Moch. Chotib, S.Ag., MM.), Prof Dahlan (Prof. Dr. Moh Dahlan, M.Ag.), dan Prof Hamdan (Prof. Dr. Khamdan Rifa’i, SE., M.Si.),” ungkap sumber tersebut. (AH)


