Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditugasi Presiden Prabowo Subianto untuk mencari pinjaman dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Selain berhasil mendapatkan pendanaan dari AIIB senilai US$ 17 miliar atau setara Rp 301,41 triliun (kurs Rp 17.730), Purbaya sukses membawa pulang gelar Profesor dari Universitas Nankai, Tiongkok.
Kepergian Purbaya ke China untuk memburu pendanaan dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang akan digunakan mendukung berbagai proyek pembangunan nasional selama periode 2025-2029.
Namun ditengah negosiasi dengan AIIB, Purbaya justru dianugerahi gelar Profesor Kehormatan (Honorary Professor) di bidang Ekonomi dari Universitas Nankai, Tiongkok.
Gelar tersebut diberikan pada minggu lalu. Setelah kunjungan kerja, Purbaya sempat memberikan kuliah umum mengenai gambaran ekonomi dan fiskal Indonesia di salah satu kampus ternama di negeri tirai bambu tersebut.
Gelar Profesor Kehormatan diberikan langsung oleh Presiden (Rektor) Universitas Nankai, Prof. Chen Yulu. Dalam keputusan yang disampaikan, penghargaan diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi dan kepemimpinan Purbaya dalam pengelolaan keuangan publik, pembangunan ekonomi, serta penguatan stabilitas sektor keuangan di kawasan Asia Tenggara.
“Keputusan ini merupakan pengakuan atas kepemimpinan Anda yang luar biasa, kontribusi yang menonjol dalam bidang keuangan publik internasional, serta komitmen yang teguh terhadap pembangunan ekonomi dan stabilitas sektor keuangan di kawasan Asia Tenggara,” kata Chen Yulu dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu (24/6/2026).
Menurut Purbaya, penghargaan tersebut bukan hanya merupakan pengakuan atas kontribusi dan capaian individu, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya hubungan dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok termasuk di bidang ekonomi, keuangan dan pendidikan.
“Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh rakyat Indonesia dan insan pengelola keuangan negara yang terus bekerja menjaga stabilitas ekonomi nasional. Saya meyakini bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan para pembuat kebijakan menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks,” ujar Purbaya.
Purbaya berharap penganugerahan tersebut dapat semakin memperkuat hubungan akademik dan kerja sama antara Indonesia dan China, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
“Dalam pengembangan riset, pendidikan dan kebijakan ekonomi yang mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif,” imbuh Purbaya.
Kegiatan Purbaya di China
Salah satu oleh-oleh Purbaya dari China yakni mengamankan komitmen pendanaan senilai US$ 17 miliar atau setara Rp 301,41 triliun (kurs Rp 17.730) dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Pendanaan itu untuk mendukung berbagai proyek pembangunan nasional selama periode 2025-2029.
Komitmen tersebut merupakan salah satu hasil pertemuan bilateral antara Purbaya dan jajaran dengan pimpinan AIIB di Beijing, Tiongkok. Dukungan pendanaan tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pembiayaan pembangunan nasional dan mempercepat pelaksanaan berbagai proyek strategis pemerintah.
“Yang paling penting adalah kita berhasil mengamankan pendanaan sekitar US$ 17 miliar untuk proyek-proyek pembangunan di Indonesia antara 2025-2029. Itu merupakan kontribusi yang sangat besar bagi pembiayaan proyek-proyek pembangunan di Indonesia,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).
Pendanaan tersebut merupakan bagian dari Multi-Year Rolling Pipeline yang telah dibahas bersama AIIB. Meskipun sebagian program telah dirancang sebelumnya, komitmen pendanaan dari lembaga multilateral tersebut mendukung agenda pembangunan nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Kemudian Purbaya juga mendapatkan dukungan dari Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBOC) terkait rencana penerbitan perdana Panda Bond Indonesia di negeri Tirai Bambu itu. Dukungan itu penting untuk memperluas akses pembiayaan serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
“Hasilnya cukup baik. Kita bertemu Menteri Keuangan Tiongkok, People’s Bank of China dan juga para investor di sini. Dukungan yang diberikan kepada Indonesia sangat kuat,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).
Purbaya mengklaim baik Kementerian Keuangan China maupun PBOC menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung proses penerbitan surat utang tersebut. Penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pembangunan nasional agar tidak bergantung pada satu mata uang atau satu pasar keuangan tertentu.
“Kami meminta dukungan untuk penerbitan Panda Bond dan mereka amat mendukung. Bahkan ketika bertemu PBOC, kami meminta percepatan perizinan. Mereka menyampaikan bahwa begitu dokumen pengajuan resmi masuk, prosesnya akan segera dipercepat,” ujar Purbaya. ***


