Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) makin kesini mulai diperketat anggarannya. Jika dulu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG berlimpah cuan dari anggaran negara dengan mengatasnamakan makanan buat anak-anak, kini mereka gigit jari.
Pasalnya pengeluaran anggaran MBG kini mulai diperketat usai tiga mantan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) ditangkap. Kepala BGN Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Irjen Pol Sony Sonjaya dan Letjen TNI Purn Lodewijk Pusung masuk tahanan.
Pembayaran mulai selektif dan jumlah porsi makanan yang dimasak mulai diaudit dan dipelototin.
Dapur MBG Mulai Kelimpungan, Terancam Modal Tak Balik
Di Kota Surabaya tercatat ada 133 Dapur MBG mulai kelimpungan. Mengharapkan “dana bancakan” Rp 6 juta per hari yang dikemas sebagai dana insentif kini mulai ditiadakan.
Apalagi ketika memasuki masa liburan sekolah, aktivitas produksi mereka dipaksa berhenti total. Kondisi ini tidak hanya mematikan aktivitas ekonomi pemilik SPPG, tetapi juga memutus mata rantai pasokan bahan baku dari para supplier lokal.
Salah satu mitra dapur, Bagiyon menyebut para mitra kini dalam kondisi lumpuh atau “step”.
Padahal, sebagai pelaku usaha, mereka sangat beruntung sekali dengan adanya insentif harian sebesar Rp 6 juta per hari. Dana tersebut biasa dikucurkan pemerintah untuk memutar roda operasional dan menggaji karyawan serta relawan.
“Saat dihentikan, semua kelimpungan. Supplier mandeg,” tambah Bagiyon menceritakan dampak nyata di lapangan.
Demo Dapur MBG Tuntut Uang Insentif Dibayar
Ratusan mitra dapur MBG yang tergabung dalam DPD Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-Gemas) Kota Surabaya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Para pengelola dapur MBG itu menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu (8/7/2026) untuk menyuarakan aspirasi mereka. Aksi tersebut disebut menjadi wadah bagi para mitra pengelola MBG di Kota Surabaya untuk menyampaikan aspirasi terkait pelaksanaan program MBG di lapangan.
Aksi dipusatkan di depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, mulai pagi hari. Berdasarkan selebaran resmi yang beredar, kegiatan itu akan dikemas dalam konsep “Parade Nasional Gerakan Pendukung”.
Koordinator aksi demo telah mengimbau setiap yayasan atau SPPG untuk mengirimkan relawannya dengan membawa bekal makanan sendiri. Jalannya aksi ini nantinya akan dikomandoi secara terukur oleh tiga koordinator lapangan (korlap) yang telah ditunjuk resmi oleh organisasi.
Aksi turun ke jalan ini dipicu kekhawatiran para pemilik dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terhadap keberlangsungan dan tata kelola program nasional tersebut.
Sebagai pihak yang memproduksi dan mendistribusikan makanan, mereka merasa sangat terdampak oleh regulasi terbaru pemerintah.
“Kami mendukung MBG,” tegas Ketua DPD HMD-Gemas Kota Surabaya, Bagiyon, saat memberikan konfirmasi pada Selasa (7/7/2026) sore.
Namun, dirinya menyayangkan adanya kebijakan penghentian operasional sementara yang dinilai merugikan ekosistem dapur piringan emas tersebut.
Dalam aksi yang bertajuk “Aksi Damai Serentak Nasional Dukung MBG” ini, HMD-Gemas Surabaya membawa sejumlah poin tuntutan krusial.
Tuntutan utama mereka adalah mendesak pemerintah segera mencabut Surat Edaran (SE) Kepala BGN Nomor 12/2026.
Sebagai informasi, SE 12/2026 yang diterbitkan pada 17 Juni 2026 tersebut merupakan aturan yang melandasi penyetopan sementara penyaluran makanan MBG serta pembekuan insentif harian Rp 6 juta bagi SPPG selama periode libur sekolah dan libur nasional.
Selain menolak SE tersebut, para pengelola dapur mendesak pemerintah agar tidak mengorbankan nasib relawan dan pekerja dapur. Mereka menuntut adanya kepastian hukum jangka panjang, keterlibatan aktif mitra sebagai pelaksana utama program, serta sistem tata kelola anggaran yang jauh lebih transparan.
Ketua BGN Nanik S Deyang Menghilang di KPK
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan terutama terkait sosok petinggi BGN yang selalu jadi perhatian publik. Sorotan kembali muncul usai Ketua BGN, Nanik S Deyang, mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, pada Selasa (7/7/2026).
Nanik tiba di Gedung KPK bersama Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) TNI Trenggono pada pukul 10.34 WIB. Rombongan pimpinan BGN ini menumpangi dua mobil hitam dan kompak mengenakan kemeja putih berlengan panjang.
Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Aminudin langsung menyambut kedatangan mereka dan mengajak ketiganya berjalan menuju lift.
Sebagaimana dilansir dari Tribunnews, pertemuan antara pimpinan BGN dan lembaga antirasuah tersebut berlangsung sekitar dua jam. Namun, usai agenda selesai, keberadaan Nanik S Deyang justru menjadi tanda tanya.
Anehnya Nanik Deyang enggan menemui awak media setelah keluar dari gedung KPK. Ia justru menghilang. Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai keberadaannya.
Upaya wartawan untuk meminta penjelasan kepada jajaran pimpinan BGN lainnya juga belum membuahkan hasil. Pertanyaan terkait keberadaan Nanik S Deyang tidak mendapat tanggapan.
Sebelumnya wartawan yang berjaga di lokasi sempat menanyakan tujuan kehadiran para petinggi BGN tersebut ke KPK. Nanik merespons singkat bahwa mereka datang untuk menjalin kolaborasi antarlembaga.
“Kerja sama,” kata Nanik.
Menimpali ucapan Ketua BGN, Trenggono juga memberikan komentar singkat kepada wartawan sebelum rombongan memasuki ruangan. “Nanti ya,” ujar Trenggono.
Pimpinan BGN memang menjadwalkan audiensi khusus dengan pimpinan KPK dan Deputi Pencegahan KPK. Mereka membahas sinergi pengawasan dan pencegahan korupsi di lingkungan BGN.
Pertemuan antara KPK dan BGN akhirnya selesai pada pukul 12.44 WIB. Namun, awak media menyoroti sebuah kejadian menarik ketika sesi tanya jawab berlangsung. Pihak BGN yang awalnya datang bertiga tidak kembali turun secara utuh.
Hanya Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari yang tampil mendampingi Aminudin menemui para wartawan. Nanik S Deyang dan Trenggono sama-sama tidak menampakkan diri lagi ke hadapan publik.
Para jurnalis langsung menanyakan alasan Nanik dan Trenggono tidak ikut serta dalam sesi wawancara tersebut kepada Agustina. Sayangnya, Agustina mengabaikan pertanyaan awak media dan sama sekali tidak memberikan jawaban mengenai keberadaan atasannya.
Setelah sesi keterangan pers usai, Agustina bergegas melangkah pergi dan meninggalkan area Gedung KPK. ***


