MONITORNUSANTARA.COM — Pagi itu di Villa 3 A, Ciganjur, antrean sudah mengular sebelum jam menunjukkan pukul delapan (8/7/26).

Warga datang bukan untuk seremoni, tapi untuk sesuatu yang lebih mendasar: memastikan tubuh mereka baik-baik saja, dan bagi sebagian lainnya, mendengar langsung pesan yang selama ini sering diabaikan — bahwa jaminan kesehatan bukan urusan nanti, melainkan urusan sekarang.

Forum Komunikasi Lembaga Musyawarah Kelurahan (FK-LMK) Kecamatan Jagakarsa menggelar kegiatan rutin yang kali ini dirangkai dengan agenda Silaturahmi & Bakti Sosial, menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah yang disokong oleh Rumah Sakit Umum (RSU) Andhika.

Acara ini turut dihadiri jajaran tokoh masyarakat, tim RESCUE, pengurus LMK se-Kecamatan Jagakarsa, perwakilan Palang Merah Indonesia (PMI), serta instansi kesehatan setempat.

Ketika Kesehatan Jadi Alasan untuk Berkumpul

Ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah forum kelembagaan memilih kesehatan sebagai perekat silaturahminya. Ketua FK-LMK Kecamatan Jagakarsa, Ir. Achmad Fauzi, bersama Ketua FK-LMK DKI Jakarta, Dwi Hartanti, S.Sos., MM., dan Camat Jagakarsa, Muhammad Sholeh, S.IP, M.Si, membuka rangkaian acara dengan sambutan yang menekankan satu hal yang sama: kerukunan warga sulit dijaga tanpa modal fisik yang sehat.

Anggota DPRD Komisi B DKI Jakarta, H. Ade Suherman, S.Kom., yang turut hadir, menyebut kegiatan semacam ini layak diselenggarakan secara berkala. Baginya, forum seperti ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang di mana warga — khususnya warga Jagakarsa — bertemu, saling menyapa, dan merawat semangat gotong royong yang belakangan mulai jarang ditemui di tengah kesibukan kota.

RSU Andhika

Pesan yang Diulang Karena Masih Sering Diabaikan

Di antara rangkaian sambutan, ada satu momen yang terasa paling personal: ketika pemilik RSU Andhika, H. Sungkono, mengambil giliran bicara. Ia tidak membawa pidato panjang tentang pencapaian rumah sakit, melainkan sebuah ajakan sederhana yang disampaikannya secara tertulis kepada seluruh warga yang hadir.

“Bapak dan Ibu yang saya hormati, izinkan saya menyampaikan satu pesan penting. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk memastikan bahwa diri sendiri dan seluruh anggota keluarga telah memiliki jaminan kesehatan, baik melalui BPJS Kesehatan maupun asuransi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, jangan menunggu sakit baru mengurus jaminan kesehatan,” tulisnya.

Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang sudah berulang kali didengar banyak orang — tapi justru karena itulah ia terus diucapkan. Di tengah masyarakat urban yang sibuk, jaminan kesehatan kerap menjadi hal yang baru dicari ketika tubuh sudah terlanjur sakit, bukan sebagai bentuk perlindungan yang disiapkan lebih awal.

H. Sungkono menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menunjukkan komitmen besar dalam memperluas perlindungan kesehatan warganya melalui integrasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Bagi warga yang masih terkendala atau belum memiliki jaminan kesehatan, ia menyarankan agar segera berkoordinasi dengan pihak eksekutif wilayah terdekat — sebuah langkah kecil yang, menurutnya, bisa menyelamatkan banyak hal di kemudian hari.

Kegiatan resmi berakhir pukul 12.00 WIB dengan sesi ramah tamah, namun semangat yang dibawa pulang para peserta tampaknya tidak berhenti di situ. Melalui kolaborasi antara LMK, RESCUE, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, dan RSU Andhika, edukasi preventif yang disampaikan hari itu diharapkan tidak berhenti sebagai wacana seremonial, melainkan benar-benar dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan keluarga masing-masing.

Bagi warga Jagakarsa yang hadir pagi itu, pemeriksaan kesehatan gratis mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tapi pesan yang mereka bawa pulang — untuk tidak menunggu sakit sebelum bertindak — barangkali jauh lebih lama bertahan.

Ikuti MONITORNusantara.com di Google News

Sempatkan juga membaca artikel menarik lainnya, di portal berita EDITOR.id dan MediaSosialita.com