Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya buka suara dugaan soal adanya manuver asing di balik rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar modal Indonesia dari kelompok emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri). Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan, pihaknya akan fokus bekerja melakukan reformasi pasar modal.

“Kita kerja saja. Silakan orang lain mengomentari, silakan orang berpikir sendiri, tetapi kita kerja saja,” kata Friderica kepada wartawan seusai menghadiri acara Ijtima’ Sanawi yang digelar Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Friderica, yang kerap disapa Kiki, menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan perkembangan langkah strategis otoritas dalam menanggapi dinamika pasar kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Menurut penuturannya, Presiden menginstruksikan agar OJK terus menggencarkan upaya reformasi yang telah diamanatkan.

“Kemarin saya sampaikan juga laporan kepada Bapak Presiden. Bapak Presiden menyampaikan, teruskan reformasi yang sangat baik, kemudian tegakkan ketentuan dan enforcement terus,” tegasnya.

Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi ramai membahas dugaan adanya manuver asing di balik rencana MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market. Hal itu diungkapkan Lutfi melalui akun Instagram resminya, @mlutfi, pada Senin (19/10/2026).

“Tiba-tiba lembaga indeks internasional, MSCI, mengeluarkan ancaman mau menurunkan kasta pasar modal Indonesia dari emerging market langsung ke kasta terendah standalone market. Anda tahu apa syarat sebuah negara dimasukkan ke standalone market? Itu kasta untuk negara yang menerapkan capital control,” kata Lutfi, mengutip unggahan Instagram resminya, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, capital control berarti negara tidak memiliki nilai tukar bebas. Pemerintah mematok kurs resmi di atas kertas, tetapi di jalanan berlaku kurs pasar gelap karena masyarakat dilarang melakukan jual beli mata uang.

“Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak,” tuturnya.

Lutfi kemudian menyinggung negara tetangga, Singapura. Ia menyebut sejumlah perusahaan besar di Singapura yang dinilai memiliki andil dalam masalah tersebut, seperti perusahaan investasi Temasek Holdings, BUMN Singapura, dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), sovereign wealth fund milik Singapura.

“Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan, saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Khoo di GIC (Country Director di GIC) yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan,” ungkapnya.

“Come on, Rachel, don’t you know walls in Jakarta do talk and scream? Alasannya dipakai karena ulah segelintir konglomerat kita sendiri, tetapi motif sebenarnya di balik layar jauh lebih licik. Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia,” lanjutnya.

Lutfi melanjutkan, persoalannya adalah ketika investor asing tersebut keluar, Bursa Indonesia tidak hancur karena harga saham tidak turun. Mereka tidak bisa masuk kembali untuk membeli dengan harga murah. Karena itu, Lutfi menduga mereka menyiasati keadaan dengan menekan MSCI agar mengancam menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market.

“Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok, lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” ungkapnya.

Pada akhir video berdurasi 2 menit 41 detik tersebut, Lutfi menyampaikan pesan agar bangsa Indonesia tidak mau diadu domba dan dibuat minder oleh negara tetangga.

“Ini soal siapa yang memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik, kita jaga harga diri bangsa kita sendiri,” tutupnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (20/10/2026) sore ditutup menguat 5,65 persen seiring bargain hunting investor (aksi beli saham yang harganya turun) setelah dua hari perdagangan mengalami koreksi signifikan.

IHSG ditutup menguat 282,28 poin atau 5,65 persen ke posisi 5.278,89. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 41,89 poin atau 8,58 persen ke posisi 530,35.

“Penguatan IHSG hari ini lebih didorong oleh technical rebound setelah koreksi yang sangat tajam dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Investor mulai melakukan bargain hunting pada saham-saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah terkoreksi cukup dalam,” ujar pengamat pasar modal Elandry Pratama di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Selain itu, Elandry mengatakan langkah BEI untuk mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG turut menjadi sentimen yang dicermati oleh pelaku pasar.

“Namun, ini belum berarti risiko pasar sudah sepenuhnya mereda,” ujar Elandry.

Dari sisi sektoral, Ia mengatakan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu penopang utama, yang mana saham-saham tersebut memiliki bobot yang cukup besar terhadap indeks, sehingga pemulihannya memberikan kontribusi signifikan terhadap IHSG.

“Namun, perlu dilihat apakah penguatan ini bisa meluas ke lebih banyak sektor dan saham agar pemulihannya lebih solid,” ujar Elandry.

Elandry melihat saat ini investor masih cenderung berhati-hati, terutama investor global yang sensitif terhadap isu transparansi kepemilikan, free float, dan potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Sementara itu, Ia menyebut investor domestik berpeluang memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi secara selektif.

“Jadi, meskipun ada perbaikan market sentiment hari ini, arus dana asing dan keberlanjutan penguatan saham-saham unggulan masih menjadi faktor penting untuk melihat arah pasar selanjutnya,” ujar Elandry.

Sementara itu, Elandry menyebut terkait respons pemerintah dan regulator dalam menangani gejolak pasar serta memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar modal, dapat mempengaruhi kepercayaan investor.

Namun demikian, menurutnya penguatan IHSG hari ini lebih tepat dilihat sebagai respons jangka pendek setelah tekanan jual yang besar, bukan semata-mata karena momentum dua tahun pemerintahan.

“Untuk membangun kepercayaan investor secara berkelanjutan, pasar membutuhkan implementasi reformasi yang konsisten, kepastian kebijakan, stabilitas makroekonomi dan perbaikan capital flow,” ujar Elandry.

Dibuka melemah, IHSG bergerak ke teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor menguat yaitu dipimpin sektor transportasi & logistik yang menguat sebesar 6,97 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor infrastruktur yang naik masing-masing sebesar 6,42 persen dan 5,62 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ATLA, BBSS, PNSE, SHID dan SOTS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni AMMS, LUCY, HBAT, IDEA dan WIDI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,47 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 54,83 miliar lembar saham senilai Rp26,47 triliun. Sebanyak 694 saham naik 111 saham menurun, dan 158 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 1,16 persen ke 64.164,00, indeks Kospi melemah 3,73 persen ke 5.552,74, indeks Shanghai menguat 0,12 persen ke 3.735,37, indeks Hang Seng melemah 1,32 ke 23.867,74, dan indeks Strait Times melemah 0,34 persen ke 5.393,48. ****

Ikuti MONITORNusantara.com di Google News

Sempatkan juga membaca artikel menarik lainnya, di portal berita EDITOR.id dan MediaSosialita.com