NAMANYA Koesno Wibowo perawakannya kekar dan tongkrongannya sangar. Sering kali dia terlihat di lapangan Kereta Api Pacarkeling sekedar menghabiskan hari sambil nonton adu jotos. Para pemuda Surabaya telah mengetahui bila ingin dianggap jagoan maka harus berani datang ke lapangan itu. Kegiatan sekedar untuk unjuk kebolehan dan mencari pengakuan. Koesno adalah jagoan di arena tersebut. Susah mencari orang yang mampu mengalahkan dirinya.

Tidak hanya adu jotos dengan sesama pribumi, Koesno juga kerap melawan orang Indo-Belanda. Hanya mereka yang punya nyali berani baku hantam dengan orang yang memiliki postur lebih besar. Koesno lebih saring mempecundangi para jagoan keturunan Belanda dalam pertarungan tangan kosong tersebut.

Lahir di Mojokerto sebelum datang ke Surabaya untuk sekolah dan selanjutnya mencari pekerjaan. Dia harus meninggalkan kampungnya sebab di kota kecil kediamannya cuma ada sekolah Lanjutan setingkat SMP yang disebut MULO. Mereka yang memiliki ijazah MULO sudah bisa mencari kerja sebagai pegawai rendahan. Koesno diterima bekerja sebagai hulp scrijver atau pembantu juru tulis pada kantor Regentschap Surabaya yang ada di Gentengkali. Regentschap Surabaya saat ini berubah menjadi Kabupaten Gresik. Koesno tinggal di kampung Juwingan Surabaya.

Setelah Belanda dikalahkan Jepang, Koesno ikut mobilisasi tenaga pemuda untuk membantu Jepang. Kesatuan yang dipilih adalah Jibakutai yang merupakan pasukan berani mati. Pilihan yang tepat dengan sifatnya yang suka berkelahi karena Jibakutai memiliki spesifikasi pertempuram jarak dekat yang semakin mengasah ilmu beladirinya. Dia juga masih tetap bekerja seperti semula di Surabaya Ken alias Kabupaten Surabaya yang dipimpin oleh RTA. Moesono.

Saat Indonesia menyatakan kemerdekkan dengan proklamasi oleh Soekarno-Hatta, Koesno Wibowo bersama kawan-kawan sekantornya membentuk Angkatan Muda Pegawai Kabupaten Surabaya. Tidak berselang lama AFNEI (Sekutu) datang sebagai pemenang perang. Dalam tubuh AFNEI terdapat beberapa orang perwira Belanda, seperti Ploegman yang ingin mengambil kembali Indonesia seperti sebelum Jepang datang. Ploegman yang menginap di Hotel Yamato Jl. Tunjungan menaikkan bendera Belanda. Tindakan yang segera mendapat reaksi dari Residen Soedirman dan rakyat Surabaya.

Koesno yang sedang bekerja di kantornya jual melihat bemdera Belanda berkibar di menara Yamato. Dia minta ijin pada Kencho (Bupati) Moesono untuk melihat situasi di Tunjungan. Dia segera berlari setelah atasannya mengijinkan. Sampai di lokasi telah banyak orang yang datang. Koesno segera menyelinap masuk.

Residen Soedirman sempat bernegosiasi dan minta agar bemdera Belanda diturunkan, permintaan yang dijawab oleh Ploegman demgan mengangkat pistol yang terkokang. Suasana memjadi ricuh, pistol yang diarahkan pada Soedirman berhasil ditepis oleh Sidik, pemuda yang mengawal Soedirman. Keduanya bergumul hingga tangan Sidik berhasil mencengkeram leher Ploegman. Perwira AFNEI itupun berkelojotan dengan mata melotot karena tak bisa bernafas dan mati.

Melihat ada yang mati, tentara Jepang yang berjaga disana mulai memasang sangkur pada ujung senapannya. Dalam keributan susulan diketahui Sidik meninggal akibat tembakan. Sementara di puncak menara Koesno dan seorang lainnya berhasil menurunkan bendera Belanda. Dari puncak menara Koesno berteriak minta bendera merah putih. Ternyata tidak ada seorangpun yang membawa bendera Indonesia.

Koesno berpikir, dengan merobek warna biru maka yang tersisa adalah merah dan putih. Dengan tangannya dia coba menghilangkan warna biru dari bendera Belanda. Tapi jahitan bemdera itu cukup kuat. Ganti Koesno menggunakan gigi dan kekuatan rahangnya. Usahanya berhasil, bemdera itu dia naikkan lagi sebagai bemdera Merah Putih.

Situasi di Surabaya bergolak hingga puncaknya meletus pertempuran 10 Nopember. Koesno ikut berjuang bersama ribuan pemuda Surabaya dan sekitarnya. Mereka berusaha mempertahankan kota dari bombardir tentara Sekutu. Koesno harus mundur ke Malang setelah kota Surabaya tidak bisa dipertahankan lagi.

Saat pemerintah membentuk badan intelejen yang diberi nama BISAP, biro intelejen angkatan perang yang dipimpin Zulkifli Lubis, Koesno ditarik masuk. Dia ditempatkan di Jogjakarta dan dididik ilmu intelejen di Sarangan. Koesno mendapat pangkat kapten dalam kesatuan tersebut. Pilihan berjuang sebagai seorang intel membuat namanya menghilang dari gegap gempitanya perjuangan.

Koesno banyak menyaksikan peristiwa masa awal kemerdekaan di Jogjakarta misalnya, kudeta yang dilakukan oleh Tan Malaka lewan Mayjen Soedarsono. Bersama kawan-kawannya di BISAP, Koesno berhasil menahan Soedarsono sekaligus menggagalkan upaya pengambilalihan kekuasaan oleh Tan Malaka.

Setelah purna tugas, Koesno Wibowo memilih balik ke tanah kelahirannya di Mojokerto. Bersama kawan-kawannya di Legiun Veteran dia menginisiasi tanda penghargaan bambu runcing di makam para pejuang. Pertama kali tanda itu ditancapkan saat pemakaman Drg. Yetty Zain di Kalibata. Koesno Wibowo meninggal pada pertengahan tahun 1980-an.

Insiden bendera di hotel Yamato tanggal 19 Oktober 1945 itu menjadi salah satu moment bersejarah. Belakangan banyak orang yang mengaku sebagai perobeknya. Tetapi Koesno memilih diam hingga kawan-kawan seperjuangan yang menyaksikan menyebut nama Koesno Wibowo sebagai pelaku utama. Sedangkan seorang lainnya ada yang menyebut sebagai Onny Manuhutu. Sebagian lainya menunjuk pada nama Hariyono.

Terkait tempat kelahiran Koesno di Mojokerto dapat dibaca pada pengakuan K. Soetrisno yang ikut dalam insiden bendera. Artikel berjudul K. Soetrisno, Tokoh Insiden Bemdera Surabaya,. di muat dalam Koran Berita Yudha yang terbit pada 2 Januari 1983. Dia mengaku menyediakan pundaknya sebagai pijakan agar Koesno Wibowo bisa naik ke menara hotel Yamato.

Sidowangun, 25 Nopember 2025

Ikuti MONITORNusantara.com di Google News

Sempatkan juga membaca artikel menarik lainnya, di portal berita EDITOR.id dan MediaSosialita.com