Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Arus dana investasi asing masih terus berduyun-duyun cabut dari pasar saham di Indonesia. Situasi ini membuat dalam tiga hari terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk. Ketidakpercayaan atau distrust diyakini menjadi salah satu faktor yang mendorong investor asing beramai-ramai membuang saham-saham perusahaan Indonesia.
Fenomena arus keluar dana asing di pasar saham kelihatan sangat bertolak belakang dengan optimisme sentimen pasar. Hasil Market Classification Review MSCI 2026 telah memberi kabar positif, Indonesia tetap berada di emerging market (EM). Penyedia indeks global juga mengakui perbaikan transformasi pasar modal Indonesia.
Namun di hari yang sama kondisi pasar justru sebaliknya. Dana asing masih terus keluar dari pasar. Sehingga pada Rabu (24/6/2026), IHSG justru melemah 03,56% dengan net sell asing sebesar Rp1,17 triliun. Net sell asing terus terjadi sejak penutupan perdagangan 18 Juni 2026.
Sementara dalam MSCI Acessibility Review 2026, pasar modal Indonesia sebenarnya masih cukup unggul dibandingkan dengan negara EM lainnya dari beberapa kriteria penilaian MSCI.
Kondisi kontras juga terpotret dalam horizon data kuartalan. Dalam Januari-Maret 2026, tercatat net sell asing sebesar Rp32,85 triliun.
Padahal, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dalam periode ini fundamental perusahaan tercatat menorehkan kinerja terbaiknya dalam 5 tahun terakhir, yakni 80% dari emiten yang melantai di bursa membukukan laba bersih. Selain itu, emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9%.
Sementara itu, saat IHSG mencatat net sell Rp1,17 triliun pada perdagangan Rabu (24/6/2026), sejumlah saham seperti BREN, ANTM, INDF, INCO, UNVR, GGRM, ICBP, AKRA, CUAN, hingga TINS justru menjadi 10 besar emiten dengan nilai net buy tertinggi. Artinya, asing cukup selektif masuk ke Indonesia memilih emiten-emiten tertentu.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata sebagaimana dilansir dari Bisnis Indonesia, menjelaskan ada tiga faktor utama yang menjadi perhatian investor asing melihat pasar modal Tanah Air.
Pertama, stabilitas rupiah. Kedua, kepastian arah kebijakan ekonomi, Ketiga bukti bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) benar-benar meningkatkan transparansi dan kualitas price discovery.
“Selama faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya membaik, investor institusi kemungkinan masih akan bersikap selektif, meskipun kami melihat proses akumulasi awal pada saham-saham tertentu sudah mulai terjadi,” kata Liza Kamis (25/6/2026).
Ihwal sentimen yang disebabkan MSCI, Liza menilai bagian terpenting dari laporan reviu penyedia indeks global tersebut bukan keputusan mempertahankan Indonesia di Emerging Market (EM), melainkan peringatan yang menyertainya.
MSCI secara eksplisit menyoroti profound investability concerns terkait transparansi kepemilikan saham dan dugaan coordinated trading behavior.
MSCI, kata Liza, juga memberi tenggat hingga November 2026 dan membuka kemungkinan konsultasi penurunan status ke Frontier Market apabila reformasi belum menunjukkan hasil nyata.
“Artinya, pasar tidak bereaksi terhadap status Emerging Market yang dipertahankan, tetapi terhadap meningkatnya risiko di masa depan. Hal inilah yang berpotensi menaikkan risk premium Indonesia,” tegasnya.
Sementara faktor di luar MSCI, tantangannya juga bersifat struktural. Liza bilang, Indonesia kini berada di peringkat 48 Global Competitiveness Ranking, tertinggal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan bahkan Filipina.
Hal ini menunjukkan investor global tidak hanya melihat market size atau ukuran ekonomi, tetapi juga kualitas institusi, produktivitas, efisiensi regulasi, serta kepastian kebijakan sebelum menempatkan modalnya.
Asing Masuk Selektif
Sejak awal tahun hingga Kamis 25 Juni 2026, tercatat akumulasi nilai jual bersih investor asing sebesar Rp71,14 triliun. Namun, Liza melihat investor asing saat ini tidak sepenuhnya menunggu di luar pasar.
Menurutnya, dengan valuasi (IHSG) yang sudah kembali ke level rendah tahun lalu, Kiwoom Sekuritas melihat kemungkinan sebagian smart money sudah mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas.
“Namun, arus dana besar (broad-based foreign inflow) biasanya baru datang setelah kepercayaan pasar mulai pulih dan tren kenaikan indeks sudah lebih jelas,” ujar Liza.
Secara historis, Liza mencatat dalam beberapa episode pemulihan IHSG, investor asing justru sering kembali setelah indeks lebih dahulu menguat belasan persen, bukan tepat di titik terendah.
Liza menggarisbawahi, ini artinya yang masih ditunggu investor global bukan sekadar valuasi murah atau laba emiten yang kuat, melainkan penurunan country risk.
Saat ini investor asing menunggu tiga sinyal sebelum mereka kembali masuk. Tiga faktor itu adalah bukti nyata implementasi reformasi information flow, stabilisasi rupiah yang berkelanjutan, serta kejelasan MSCI Review yang akan dirilis November 2026.
Di sisi lain, faktor yang membuat risk premium Indonesia meningkat adalah penurunan kriteria information flow dalam MSCI Classification Review 2026. Kondisi ini menurutnya membatasi kemampuan asing melakukan index replication.
Dihantam Sentimen Global dan Dalam Negeri
Sementara itu Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan IHSG anjlok dipicu kombinasi sentimen negatif global dan domestik yang mendorong aksi jual investor.
Dari eksternal, ada pelemahan bursa Asia mengikuti tekanan yang terjadi di Wall Street. Pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei dirilis sesuai ekspektasi.
Pilarmas mengatakan, meski data tersebut meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. “Pasar masih memperkirakan peluang sekitar 80% The Fed menaikkan suku bunga pada Desember,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (26/6/2026).
Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada September diperkirakan mencapai sekitar 63%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan tekanan inflasi diperkirakan akan mereda tahun ini, tetapi masih berada di level yang terlalu tinggi.
Senada, Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menilai inflasi sektor jasa mulai menunjukkan perbaikan, namun tekanan inflasi secara keseluruhan masih jauh dari target bank sentral.
Dari dalam negeri, Pilarmas mengatakan, sentimen pasar turut tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap iklim investasi. Salah satunya dipicu terbitnya UU No 4/2026 yang mengubah ketentuan dalam UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Regulasi tersebut, lanjut Pilarmas, khususnya Pasal 50A mengenai perlindungan hukum bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond, dinilai sebagian pelaku pasar berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap tata kelola sistem keuangan.
“Kekhawatiran muncul karena kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pencucian uang serta memengaruhi kepercayaan investor terhadap integritas regulasi di Indonesia,” tambah Pilarmas.
Tekanan juga datang dari turunnya posisi Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026. Daya saing Indonesia merosot ke peringkat 48 dari 70 negara, turun delapan peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya efisiensi bisnis, efektivitas pemerintah, serta kualitas infrastruktur,” papar Pilarmas. ***


