Jakarta, MONITORNUSANTARA.COM,- Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki dua tahun pada 20 Oktober 2026. Di era saat ini Prabowo paling hobi memborong senjata dan mesin tempur. Mulai dari Kapal Induk, Kapal Perang jenis Fregat, Jet Tempur Rafale hingga Rudal.
Presiden Prabowo paling getol belanja beragam alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru untuk memperkuat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Nilainya mencapai puluhan triliun.
Pengadaan tersebut mencakup jet tempur Rafale, pesawat angkut Airbus A400M Atlas, fregat, kapal induk eks Angkatan Laut Italia, helikopter, hingga kendaraan tempur amfibi. Bahkan Prabowo telah membeli rudal jarak jauh dari negara Turki dan saat ini sudah terpasang menjaga wilayah terdepan Indonesia.
Di matra udara, TNI Angkatan Udara mulai menerima jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, Prancis, pada 2026. Dari total 42 unit yang dipesan, enam pesawat dilaporkan telah berada di Indonesia dan ditempatkan di Skadron Udara 12, Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Rafale memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dan mampu membawa persenjataan hingga 9.500 kilogram. Pesawat ini menjadi salah satu bagian dari penguatan kemampuan tempur udara Indonesia.
Selain Rafale, TNI AU menerima dua pesawat angkut Airbus A400M Atlas, masing-masing pada November 2025 dan Maret 2026. Pesawat tersebut dapat mengangkut hingga 116 personel bersenjata lengkap, kendaraan, serta perlengkapan militer berukuran besar.
A400M juga dapat digunakan untuk misi kemanusiaan dan pengiriman logistik ke wilayah terdampak bencana. Pesawat ini dilaporkan telah dikerahkan untuk mendukung penyaluran bantuan bagi korban gempa di Sumatra dan Aceh.
Indonesia turut menerima empat unit Dassault Falcon 8X, jet berkapasitas 13–16 penumpang dengan jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer. Pengadaan lainnya meliputi delapan helikopter H225M Caracal dan dua helikopter H225T VVIP untuk mendukung kebutuhan angkut taktis dan mobilitas udara.
Di matra laut, TNI Angkatan Laut memperkuat armadanya dengan dua fregat buatan Italia, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kapal produksi Fincantieri tersebut memperkuat Komando Armada II di Surabaya untuk mendukung pengamanan wilayah perairan Indonesia.
TNI AL juga menerima Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Belati, kapal buatan dalam negeri yang dapat digunakan untuk patroli maupun operasi tempur.
Sementara itu, Indonesia menerima KRI Sriwijaya (100), kapal induk milik TNI Angkatan Laut yang sebelumnya dioperasikan Angkatan Laut Italia dengan nama ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal tersebut secara resmi diterima pada 24 September 2026.”
KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang 180,2 meter dan dek penerbangan yang dapat menampung sejumlah helikopter serta pesawat nirawak. Kapal ini dilaporkan mampu mencapai kecepatan sekitar 30 knot.
Penguatan alutsista juga berlangsung di lingkungan TNI Angkatan Darat. Dua helikopter Mi-35M buatan Rusia diterima pada pertengahan 2026 dan mulai beroperasi di Pusat Penerbangan Angkatan Darat di Semarang pada awal September.
Meski memiliki kemampuan tempur, kedua helikopter tersebut direncanakan lebih banyak digunakan untuk mendukung pengiriman logistik di Papua, wilayah dengan tantangan geografis yang menyulitkan mobilitas darat.
Adapun Korps Marinir TNI AL menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV-M35 buatan Amerika Serikat pada September 2026. Kendaraan ini dapat membawa hingga 24 personel dan beroperasi di darat maupun air.
AAV-M35 menggunakan mesin berkekuatan 525 tenaga kuda. Kendaraan tersebut mampu melaju hingga 75 kilometer per jam di darat dan 15 kilometer per jam di air. Persenjataannya mencakup senapan mesin kaliber 12,7 milimeter dan pelontar granat otomatis kaliber 40 milimeter.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan penguatan kemampuan militer diperlukan untuk mendukung tugas pertahanan sekaligus membantu masyarakat dalam situasi darurat. Ia menilai kondisi geografis Indonesia membuat kemampuan udara memiliki peran penting.
“TNI adalah alat negara yang sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana, menghadapi kesulitan, menghadapi masalah-masalah kepentingan masyarakat. Jadi saya kira ini akan menambah kemampuan kita. Wilayah kita sangat besar, sebesar Eropa, kemudian sekian belas ribu pulau. Udara bagi kita sangat-sangat menentukan,” ujar Prabowo, ditulis Selasa (20/10/2026).
Prabowo juga menekankan bahwa pembangunan kekuatan militer perlu diarahkan pada peningkatan efektivitas pelaksanaan tugas TNI, baik dalam menjaga wilayah maupun mendukung pembangunan nasional.
“Dan yang sangat penting, semua TNI sekarang kita bangun untuk menjadi lebih efektif, tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga mengamankan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya.
Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan kemampuan TNI untuk menjaga wilayah Indonesia sekaligus mendukung pembangunan nasional, termasuk melalui pengadaan alutsista baru.****


